MATEMATIKA itu SULIT atau HANYA SEBUAH "KESAN" SAJA?

(sumber: http://2.bp.blogspot.com/-rgefA_zqJbA/TzoTf1TKWRI/AAAAAAAACGg/YM7PzdOOits/s1600/belajar_un.jpg)


Matematika merupakan mata pelajaran yang dipelajari hampir di setiap jenjang pendidikan karena itu hampir setiap orang mengenal matematika. Tetapi, matematika dikenal oleh sebagian orang merupakan mata pelajaran yang sulit. Kenapa matematika bagi sebagian orang sulit?

Sebelum membahas mengenai hal di atas, mari kita renungkan hal berikut, mengapa seseorang bahkan sebagian besar orang takut untuk tidur bersama mayat satu malam saja, padahal mayat itu tidak akan bangun dan tidak akan mencekik dirinya? Rasa takut ini (yaitu takut bahwa mayat itu akan bangun dan mencekik orang yang berada di dekatnya) sebenarnya adalah rasa takut yang terbentuk dalam diri manusia. Karena sejak kecil ada sebuah keyakinan yang tidak benar dalam diri orang tersebut bahwa dia takut untuk sendirian di dekat mayat seseorang yang telah meninggal. Rasa takut ini, tentunya tidak terjadi begitu saja, tetapi boleh jadi orang tua, keluarga, bahkan lingkungan juga memiliki persepsi yang sama akan rasa takut ini.

Cerita di atas, adalah contoh bagaimana persepsi pemikiran seseorang membentuk rasa takut atas sesuatu. Padahal sesuatu itu tidak perlu ditakuti karena memang tidak akan membahayakan atau menyulitkan. Nah proses terjadinya rasa takut inilah yang menurut penulis terjadi pada diri siswa di Indonesia terhadap matematika. Mereka menyangka bahwa matematika itu sulit, padahal pada kenyataannya belum tentu demikian (meskipun bagi sebagian orang mungkin memang sulit) asalkan mereka mau mencoba mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Ketika siswa sudah punya keyakinan dalam hati dan pikirannya bahwa matematika itu sulit, maka matematika akan benar-benar terasa sulit. Akibatnya mereka tidak hanya akan kesulitan dalam mempelajari matematika, tetapi juga akan mencoba membuat harapan yang rendah terhadap hasil tesnya (misalkan, kalau pelajaran matematika dapat nilai 6 juga sudah bagus). Belum lagi ditambah oleh pandangan dari orang tua, guru, bahkan lingkungan yang menyatakan bahwa matematika itu sulit. Akibatnya bagi mereka (para siswa) matematika akan benar-benar terasa sulit.

Hal senada diungkap oleh seorang ahli pendidikan barat yang menyatakan bahwa ada rasa takut akan matematika, rasa takut tersebut mendekam dalam pikiran (Buxton, 1984:1). Masih menurut Buxton, rasa takut ini terjadi dikarenakan adanya Mind in Chaos (Buxton, 1984:85), yaitu suatu kesan negatif yang dibiarkan terjadi sejak mereka masih kecil bahwa matematika itu sulit yang pada akhirnya menjadikan mereka sampai dewasa berfikiran bahwa matematika sulit dan menakutkan.

Lalu, ada juga yang beranggapan bahwa matematika itu terasa sulit dan menakutkan karena di pengaruhi beberapa faktor internal dan eksternal.   Faktor internal diantaranya pertama minat siswa terhadap mata pelajaran Matematika. Matematika memang memiliki sesuatu yang berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Secara normal, ketika kita belajar matematika maka secara otomatis banyak sekali berinteraksi dengan angka-angka dibanding dengan kata. Nah, bagi anak yang tidak memiliki kecerdasan logic-mathematics hal ini merupakan sesuatu yang sangat membosankan sehingga mengurangi minat mereka untuk belajar. Sehingga dibutuhkan cara yang tepat supaya mereka tertarik untuk belajar terutama bidang studi matematika. Kedua, motivas yang lemah. Belajar Matemtika bukanlah sesuatu yang sulit seperti membuat roket, tetapi juga bukan sesuatu yang gampang seperti membalikan telapak tangan. Semudah-mudahnya, tetap saja dibutuhkan proses belajar untuk bisa menguasainya. Butuh waktu, butuh energi dan lain sebagainya untuk bisa menguasainya. Nah, sebagian siswa enggan melewati proses ini disebabkan oleh motivasi yang lemah. Ketiga, kesadaran tentang pentingnya belajar matematika. Ini adalah sesuatu yang lazim. Ketika seseorang tidak memahami atau menyadari manfaat sesuatu, maka ia tidak akan terdorong untuk melakukan sesuatu tersebut.  Begitu juga pada saat belajar matematika. Jika mereka tidak menyadari akan manfaatnya, maka biasanya mereka juga tidak akan termotivasi untuk belajar matematika, sehingga untuk mengatasi masalah ini perlu diberikan penyadaran kepada setiap siswa akan pentingnya belajar matematika bagi kehidupan mereka kelak. Dan masih banyak faktor-faktor internal yang lain yang membuat mereka takut dan kesulitan untuk belajar matematika. Sehingga menghambat mereka untuk bisa menguasai matematika dengan baik.

Faktor eksternal, pertama guru yang kurang bersahabat. Ketika ditanya pada para siswa, mengapa mereka malas belajar matematika? sebagian besar dari mereka menjawabnya dengan enteng, Gurunya tidak enak..! Gurunya pemarah! membosankan!. Dan banyak alasan lain yang semuanya ditumpukan kepada guru. Penilaian mereka ini bisa saja benar dan bisa saja salah. Tetapi, terlepas benar atau salahnya penilaian mereka setidaknya ini perlu menjadi pertimbangan bagi kita untuk bisa menjadi guru yang menyenangkan pada saat menyampaikan materi pelajaran di kelas, terutama ketika belajar matematika.Kedua, metode penyampaian yang kurang tepat. Oleh karena itu, setiap siswa  memiliki  gaya belajar yang berbeda, maka perlu bagi setiap guru untuk menyajikan proses belajar matematika dengan cara yang tepat. Selain itu, setiap Guru juga perlu mengemas proses belajar matematika dengan baik. Perlu disajikan dengan cara yang mudah dan mereka sukai. Faktor ini juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap mood para siswa dalam belajar matematika. Biasanya, jika metode yang kita gunakan menyenangkan, maka mereka juga akan senang untuk belajar termasuk belajar matematika.Ketiga, kurangnya pemberian motivasi. Seperti yang kita tahu, motivasi belajar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil belajar matematika. Walaupun pendapat saya ini perlu dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Keempat, kurangnya pemberian penyadaran bahwa belajar matematika itu penting bagi kehidupan setiap manusia. Hampir setiap sisi kehidupan kita selalu berhubungan dengan matematika. Ketika kita ingin membeli sesuatu, maka matematika punya peran disana. Atau kita ingin membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal kita, maka matematika juga punya tempat disana. Jadi, belajar matematika menjadi sangat penting bagi setiap kita karena seringkali ia kita butuhkan dalam setiap sisi kehidupan kita. Nah, hal ini perlu diangkat dalam proses pembelajaran matematika supaya tercipta kesadaran pada setiap siswa bahwa belajar matematika sangat penting bagi mereka dan sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka dimasa depan.

Belajar matematika sebenarnya mudah, karena dibalik sulitnya matematika menurut pada umumnya siswa, ada banyak sekali perhitungan asik dalam matematika. Dikatakan asik karena pada perhitungan-perhitungan tertentu ada cara-cara atau trik yang sangat membantu mempercepat menentukan hasilnya.

Pernyataan bahwa matematika itu mudah dan menyenangkan, semestinya diperkenalkan dan dibuktikan dari awal. Untuk mencapai penguasaan materi pelajaran apapun (bukan hanya matematika), membutuhkan ketekunan. Anggapan bahwa matematika hanya dapat dikuasai oleh murid-murid yang berbakat, tidak sepenuhnya benar. Bakat tidak menentukan tingkat penalaran, kemampuan dan keterampilan murid dalam berhitung.

Keterampilan murid dalam menyelesaikan soal matematika seperti halnya seseorang yang mencoba keterampilan menganyam. Seseorang tidak akan pernah bisa membuat anyaman dari bambu, bila orang tersebut tidak pernah mau mencoba belajar menganyam. Seseorang tidak akan bisa menghasilkan suatu anyaman dengan cepat, terarah, rapi dan indah, bila orang tersebut hanya mau mempelajari seni anyam-menganyam tanpa pernah melakukan latihan secara tekun dan teratur. Begitu juga halnya dengan pelajaran matematika. Murid tidak akan terampil menyelesaikan soal matematika bila murid yang bersangkutan jarang mencoba berlatih menyelesaikan soal matematika secara mandiri.

Pelajaran matematika identik dengan pelajaran ketrampilan tangan. Semakin sering tangan mau menulis, mencoret, mengkali, membagi, tambah dan kurang, maka otak akan semakin pandai dalam memecahkan materi soal matematika. Awal mula tangan mau bergerak, kemudian otak terstimulasi menemukan ide pemecahan soal lebih lanjut. Oleh karena itu untuk tahap permulaan, bila kita berhadapan dengan soal cerita matematika dengan tingkat kerumitan yang cukup tinggi, maka langkah pertama yang harus kita kerjakan adalah menulis apa yang kita ketahui dari soal tersebut. Maka pada saat menuliskan “diketahui:……” kita sering menemukan ide dalam memecahkan soal matematika tersebut. Terbukti bahwa ide seringkali muncul setelah tangan kita mau bergerak untuk menuliskan apapun yang kita mau. Hal lain yang perlu kita ketahui adalah kita bebas menuliskan apapun yang kita mau (tentunya yang berhubungan dengan soal), kita tidak perlu takut untuk membuat kesalahan. Karena dari kesalahan (tulis) yang telah kita buat akan memunculkan ide yang lebih kreatif dalam menyelesaikan soal.

Sekarang bagaimana supaya kita bisa mengatakan matematika itu mudah? terutama bagi anak-anak sekolah, berikut ini beberapa tips yang mungkin membantu. Pertama, sukai gurunya. Kedua, kerjakan setiap tugas dari guru, jangan menunda-nunda karena dengan menunda, maka anda menjadi orang yang menyimpan kebodohan. Ketiga, jika seandainya gurunya menyebalkan, sehingga anda tidak bisa suka maka belajarlah sendiri. Keempat, cari modul materi. Kelima, jangan menghafal rumus, tapi gunakan rumus itu kalau rumus sering digunakan maka lama-kelamaan kita akan bisa menyelesaikan soal dengan berbagai variasi dan rumus-rumus itu akan akan hafal dengan sendirinya.

Berdasarkan uraian di atas, setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pendapat siswa mengenai matematika, apakah sulit atau mudah? Kedua faktor tersebut adalah sikap guru terhadap matematika dan cara siswa belajar matematika di kelas. Jadi, mulai dari sekarang mari kita tinggalkan kesan bahwa matematika itu sulit, karena setiap orang bisa mempelajarinya dan menguasainya dengan baik.

Terima kasih atas komentar yang telah anda berikan
EmoticonEmoticon